Pada akhirnya masa kecil hanyalah permulaan.
Kita semua berkawan dengan “sebentar”.
Kadang kita tertawa mengingat bodohnya dunia ekspetasi yang melampaui batas. Yang bahkan tak diterka di awal pembayangan. Kita jatuh tersungkur.
Tapi kita tetap berusaha. Kiya mencoba tuk berkawan dengan “kedewasaan” yang melelahkan.
Dewasa menuntut kita agar kuat menghadapinya.
Kita tertawa dengan air mata. Lantas… Kita berdoa. Berdoa pada yang kuasa.
Sesekali “dewasa” membuat kita tertawa, tapi tak jarang dia juga membuat kita menangis.
Itulah sebuah ‘realita’ yang tak dapat terhindarkan.

Bagikan ke Teman-Temanmu

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email

2 Responses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *